The Meaning of Manggarai Traditional Marriage from the Perspective of Martin Buber’s “I You” Relationship

Authors

  • Felix Riondi Sugar Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Protasius Karsa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Alex Yohanes Jogo Beribe Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Marselinus Langgor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Filipus Neri Bala Kelen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Kristianus Ivan Duri Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Porfirios Samuel Febrian Lembak Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

DOI:

https://doi.org/10.61132/yudistira.v4i2.3190

Keywords:

Dialogical Philosophy, “I–You” Relationship, Manggarai Traditional Marriage, Martin Buber, Responsibility

Abstract

This study aims to analyze the meaning of Manggarai traditional marriage from the perspective of Martin Buber’s “I You” relationship. Manggarai traditional marriage is not merely the union of two individuals but also serves as a space for the formation of kinship, social, and spiritual relationships involving families and the community. This study employs a qualitative approach using literature review and philosophical analysis of texts on Manggarai traditional marriage and the thought of Martin Buber. The results indicate that the forms and stages of traditional Manggarai marriage embody the values of commitment, respect, mutual agreement, care, and responsibility. These values align with the “I You” relationship, which positions each individual as a dignified subject within a dialogical and reciprocal relationship. However, the relational meaning of marriage can shift if the belis is understood as a transaction or if the decision to marry is dominated by the family. Therefore, traditional Manggarai marriage must be understood as an authentic encounter that upholds dignity, equality, love, and shared responsibility in family life.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adinuhgra, S. (2020). Komunitas Sistem Sel Sebagai Wadah Pembinaan Iman Pasangan Keluarga Muda. Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, Antropologi, Dan Budaya, 03(02), 44.

Adon, M. J. (2021). Perkawinan Lili Di Manggarai: Antara Hukum Adat Dan Agama. DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama Dan Kebudayaan, 21(1), 40–52.

Bertens, K. (2004). Filsafat Barat Kontemporer inggris-Jerman. Gramedia Pustaka Utama.

Buber, M. (1987). I and Thou. The Cammelot Press PLC.

Bugis, H. A. (2025). Budaya Belis dalam Perspektif Martin Buber: Relasi Aku-Engkau dalam Tradisi Suku Lamaholot, Flores Timur, NTT. Jurnal Adat Dan Budaya Indonesia, 7(1), 119–129.

Derung, T. N., & Alexander, M. (2020). Peran Keluarga Muda Katolik Dalam Membangun Keharmonisan Keluarga. SAPA - Jurnal Kateketik Dan Pastoral, 5(1), 28–46. https://doi.org/10.53544/sapa.v5i1.121

Djawa, Y. H. (2022). Membaca Relasi Manusia Era Media Sosial dalam Terang Teori Aku-Engkau Martin Buber.

Fadilah, D. (2021). Tinjauan Dampak Pernikahan Dini dari Berbagai Aspek. Pamator Journal, 14(2), 88–94. https://doi.org/10.21107/pamator.v14i2.10590

Fransiskus Dose, Marselinus Langgor, Felix Riondi Sugar, & Adelberto Wili Boko. (2026). Relasi Perkawinan Katolik dalam Perspektif “Aku-Engkau” Martin Buber. Jurnal Riset Rumpun Agama Dan Filsafat, 5(2), 365–381. https://doi.org/10.55606/jurrafi.v5i2.8864

Gonsaga, C. T. (2025). Makna Go’ét Bantang Cama Réjé Lélé Dalam Perkawinan Adat Manggarai dan Implikasinya Bagi Kehidupan Keluarga. IFTK LEDALERO.

Hia, R. (2014). Konsep Relasi Manusia Berdasarkan Pemikiran Martin Buber. Melintas An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR), 30(3), 303–322.

Hia, R. (2015). Konsep Relasi Manusia Berdasarkan Pemikiran Martin Buber. Melintas, 30(3), 303. https://doi.org/10.26593/mel.v30i3.1448.303-322

Joko, F. E., Leba, J. F., Dae, V., Mbapa, J. S., Kato, H. T., Omenu, D. I., Luahane, E. A., Tabora, L., Laga, F., & Ujan, A. D. (2026). Makna Perkawinan Adat Manggarai dalam Perspektif Etika Tanggung Jawab Emmanuel Levinas. Dewantara: Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 5(1), 555–572.

Kardila, M. M., Arta, K. S., & Yasa, I. W. P. (2021). Makna belis dalam perkawinan adat pada masyarakat Gumbang Desa Riung Kecamatan Cibal, Manggarai sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah, 9(3), 153–166.

Lodan, M. C., Sugar, F. R., Eko, Y. A., Harsoyo, H., Nggajo, F. G. N., Jalni, C. A., Nenat, A. A., Nailiu, S. O., Sam, A. S., & Nifu, A. L. (2026). Kohabitasi (Kumpul Kebo) dalam Perspektif Relasi Aku-Engkau Martin Buber: Sebuah Kajian Filsafat Dialog. Dewantara: Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 5(1), 498–513.

Lon Servatius, Y. (2020). Hukum Perkawinan Sakramental Dalam Gereja Katolik (Number 2004).

Lon, Y. S., & Widyawati, F. (2021). Perkawinan dalam Masyarakat Manggarai: Budaya, Keyakinan dan Praktiknya. Ruteng: UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Mahri, M. M., Armandany, A. B. J., Ragut, L., & Endi, Y. (2022). Sakralitas Perkawinan Cangkang dalam Adat Manggarai Ditinjau dari Perspektif Kitab Hukum Kanonik. Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama Dan Kebudayaan, 22(2), 25–34.

Makung, C. M. Y. B., Sugar, F. R., Ovin, A., Rape, K., Lagur, Y. K., Gradisca, Y. A., Richardson, C., Laru, B., Haman, A. V., Soni, M., & Mahe, J. (2026). Makna Filosofis Go ’ et Bantang Cama Reje Lele dalam Perspektif Filsafat Bahasa Ludwig Wittgenstein pada Masyarakat Manggarai. Mutiara : Jurnal Penelitian Dan Karya Ilmiah, 4(April 03), 462.

Martin Buber. (1958). I and Thou (R. G. SMITH, Ed.). T.&T. Clark.

Raharso, A. C., Susanto, L. H., & Lombe, M. (2008). Kesepakatan Nikah dalam hukum Perkawinan Katolik. Dioma.

Regus, M., & Deki, K. T. (2012). Gereja Menyapa Manggarai, Menghirup Keutamaan Tradisi, Menumbuhkan Cinta, Menjaga Harapan. Satu Abad Gereja Manggarai-Flores, Jakarta: Pahressia Institute.

Riyanto, A. (2014). Katolisitas Dialogal: Ajaran Sosial Katolik. PT Kanisius.

Sarong, Y. S., & Gana, F. (2021). Komersialisasi perempuan dalam pigura budaya perkawinan adat Manggarai. Jurnal Administrasi Publik, 16(2), 167–185.

Snidjers, A. (2017). Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan. Penerbit Kanisius.

Sugar, F. R., Lembak, P. S. F., Wora, E. P. G. G., Blikololong, A. K. A., Nenat, A. A., Sam, A. S., Ajen, A. P., Meo, B. C., Agas, B. S., & Wasini, I. P. (2026). Ritus Teing Tinu dan Etika Tanggung Jawab Emmanuel Levinas:(Dialog Kearifan Lokal Manggarai dalam Relasi Keluarga). Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa, 4(1), 26–40.

Sugar, F. R., Sandri, A., Langgor, M., & Erwin, A. M. (2026). Analisis Yuridis-Pastoral Pernikahan Usia Dini dalam Terang Kitab Hukum Kanonik No . 1055 dan 1056 pada Pasangan Katolik. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa Dan Pendidikan, 6(April).

Sugiono. (2012). Metode Penelitian: Kualitatif, Luantitatif, dan R&D. Akfabeta.

Yulianto, A., & Radho, M. (2024). Konsep Filosofis Budaya Reba pada Tradisi Suku Bajawa dalam Terang Dialogis Martin Buber. Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, Dan Sosial Budaya Volume, 30, 55–66. https://doi.org/10.33503/paradigma.v29i3

Yunus, M. (2021). Sosialitas Manusia Perspektif Martin Buber Dan Relevansinya Dengan Nilai-Nilai Pancasila. JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, 7 (1), 61.

Sarah Azami, Abi Yazid Albustomi, Ananda Putra Syach Fadhilah, Muhammad Said Ramdan Hardiana, & Hikmatullah Hikmatullah. (2026). Dampak Pernikahan Usia Muda terhadap Keharmonisan Keluarga Perspektif Hukum Islam. TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam Dan Kajian Filsafat Syariah, 3(2), 99–108. https://doi.org/10.59841/tadhkirah.v3i2.548

Eka Nurlatu, & Dyulius Thomas Bilo. (2026). Peran Gereja dalam Pencegahan Pernikahan Usia Dini di Desa Bavuaya. Jurnal Insan Pengabdian Indonesia, 4(3), 183–198. https://doi.org/10.62007/jouipi.v4i3.1012

Prasandi Prasandi, Yana Maharani, Yogi Parinding, Mega Tri Palimbong, & Bunga Lestari. (2026). Kajian Hermeneutik Ulangan 22:13-30 dalam Konteks Kesadaran Jemaat Kristen Masa Kini terhadap Pernikahan Dini. Sukacita : Jurnal Pendidikan Iman Kristen, 3(2), 15–27. https://doi.org/10.61132/sukacita.v3i2.2063

Abul Ala Al-Maududi, Ratu Mulya Hasasita, Fayola Nabila Putri, Dara Citra Persia, & Zia Adzany Asher. (2026). Marriage is Scary: Ketakutan Gen Z Terhadap Pernikahan di Era Modern . Ikhlas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 3(3), 127–139. https://doi.org/10.61132/ikhlas.v3i3.2383

Novita Budi Pramoni, Sri Ernawati, & Dhian Riskiana Putri. (2025). Gambaran Komitmen Pernikahan pada Pasangan Suami Istri yang Menjalani Hubungan Pernikahan Jarak Jauh. RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 3(5), 83–90. https://doi.org/10.62383/risoma.v3i5.1112

Downloads

Published

2026-04-30

How to Cite

Felix Riondi Sugar, Protasius Karsa, Alex Yohanes Jogo Beribe, Marselinus Langgor, Filipus Neri Bala Kelen, Kristianus Ivan Duri, & Porfirios Samuel Febrian Lembak. (2026). The Meaning of Manggarai Traditional Marriage from the Perspective of Martin Buber’s “I You” Relationship. Jurnal Yudistira : Publikasi Riset Ilmu Pendidikan Dan Bahasa, 4(2), 233–251. https://doi.org/10.61132/yudistira.v4i2.3190

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.